📜 ARSIP
BERLANGGANAN
Iklan
Mbs Syamsul Ulum
Mbs Syamsul Ulum
Lihat Detail →
Sedikit Tentang Sukarno dan Muhammadiyah
29 August 2026 32 dibaca Sejarah Indonesia

Sedikit Tentang Sukarno dan Muhammadiyah

Oleh: Muhammad Zaki Al Aziz, M.Hum

Guru dan Pecinta Sejarah

Banyak hal menarik bila kita membuka kembali sejarah hubungan antara organisasi Muhammadiyah dan Presiden pertama Indonesia, Sukarno.

Keduanya pernah ditaqdirkan singgah di Jawa Timur, di Peneleh, satu tempat dimana lahir para tokoh-tokoh besar.

Bila kaitannya dengan tentang Indonesia, Mereka itu Ibarat 2 mata koin, antara Muhammadiyah dan Sukarno itu berjalan beriringan walau tidak harus memandang arah yang sama. Bila Sukarno memang lebih praktis, akan tetapi Muhammadiyah sebaliknya. 

Sukarno itu Muhammadiyah

Semua sudah mengetahui, dan itu fakta sejarah, bahwa Sukarno adalah anggota Muhammadiyah. Bahkan pernah juga menjadi pengurus ketika Sukarno diasingkan di Bengkulu.

Ketika menjadi anggota Muhammadiyah tersebut, banyak kritikan dan masukan untuk Muhammadiyah yang diajukan oleh Sukarno.

Diantaranya adalah masukan agar tokoh-tokoh Muhammadiyah jangan terjebak dalam pemikiran yang kolot.

Bahkan kritikan Sukarno tidak sebatas pada retorika semata. Ia pun pernah membuktikan secara langsung ketidaksukaannya pada cara pandang Muhammadiyah.

Tepatnya ketika Sukarno memprotes dengan cara walk out keluar dari salah satu acara yang diselenggerakan oleh Muhammadiyah.

Alasannya karena menurut Sukarno dengan ada penghalang antara kursi laki-laki dan perempuan. Hal itu tidak seharusnya terjadi.  

— Iklan —
Space Iklan 728x90

Tapi yah itulah Sukarno, lantang dan sangat jujur dengan pemikirannya yang reformis.

Meski Sukarno pernah mempunyai konflik dengan Muhammadiyah atau tokoh Muhammadiyah, sebenarnya itu hanya permasalahan cara pandang melihat satu hal.

Selebihnya Sukarno selalu menganggap Muhammadiyah adalah organisasi yang ia kagumi.

Permasalahan atau konflik yang pernah Sukarno alami dengan Muhammadiyah secara organisasi atau bahkan konflik langsung dengan tokoh Muhammadiyah kerap terjadi bukan karena Sukarno benci tapi semata-mata murni permasalahan diluar organisasi.

Umpamanya dengan Buya Hamka. Perselisihan Sukarno dengan Hamka itu murni politis, bukan terjadi didalam lingkup organisasi.

Perselisihan ini tidak dibawa oleh Sukarno ke dalam bingkai organisasi. Karena itulah mungkin diakhir hayatnya Sukarno tetap ingin dishalatkan oleh ulama dari Muhammadiyah, Buya Hamka.

Pernah juga satu waktu keluarga Sukarno itu, ketika Fatmawati ingin menggugat cerai, diminta untuk mendatangi Haji Mansur untuk mendapatkan nasihat mengenai perkaara cerai tersebut.

Hal-hal seperti ini menjadi pengingat kembali bahwa permasalahan politis tidak serta merta menjadikan Sukarno dan keluarganya lupa dengan organisasi yang pernah mereka ikuti, yakni Muhammadiyah.

 

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!